Sabtu, 06 Oktober 2012

Puisi

Aku dan Kamu Di ujung Waktu

Aku takut aku lengah mengintaimu
dari lorong-lorong hujan saat aku mencium aroma 
kopi bercampur mocalatte di dekat rintik kaca
Di helai pintu kejora akanku lukiskan rongga
waktu agar aku tetap mampu mengenalimu
apabila aku terlanjur terlalu lama bermimpi
lupa diantara lelahku menutup mata
Di sana akanku puisikan serabut kehangatan
senja di punggung kamera DSLRmu
memotret warna oleh gelembung perlahan
tanpa kita sadari merayapi ngilu tulangtulang
putih dan semakin rapuh kita mematung bisu
di seberang jalan kita bertempa logika
Lalu... bila aku memucat diserang 
lilin sunyi lambat laun menyebar seluruh sarafku
Hingga aku lindap; kenangan derai embun
sore itu aku melihatmu lagi berdiri di sampingku
membasuh kelopak mawar merah di atas 
namaku; Kau menggigil beku
nyeri melengkapiku.

Jumat, 24 Agustus 2012

Kisah Inspiratif Perjuangan Seorang Ibu

                                                         Kebohongan Ibu Buat Kebaikanku


         Cerita ini bermula ketika aku masih kecil, aku terlahir sebagai seorang anak laki-laki di sebuah keluarga yang miskin. Bahkan untuk makan saja sering kali kekurangan. Ketika makan ibu sering memberikan bahagian nasinya untukku. Sambil memindahkan nasi ke , mangkukku ibu berkata "Makanlah nak, ibu tidak lapar" KEBOHONGAN IBU PERTAMA
          
         Ketika saya mulai tumbuh dewasa, ibu yang gigih sering meluangkan waktu senggangnya untuk pergi memancing di kolam dekat rumah. Ibu berharap dari ikan hasil pancingan, ia dapat memberikan sedikit makanan bergizi untuk pertumbuhan. Sepulang memancing, ibu memasak sup ikan yang segar dan mengundang selara. Sewaktu aku mamakan sup ikan itu, ibu duduk di samping kami dan memakan sisa daging ikan yang menempel di tulang yang merupakan bekas sisa tulang ikan yang akan ku makan kepada ibuku. Tetapi ibu dengan cepat menolaknya ia berkata, "Makanlah nak, aku tidak suka makan ikan" KEBOHONGAN IBU YANG KE DUA

         Sekarang aku sudah masuk Sekolah Menengah, demi membiayai sekolahku dan kedua kakakku, ibu pergi ke koperasi untuk membawa sejumlah hasil rajutan berupa jaket, topi atau rompi itu membuahkan sedikit uang untuk menutupi kebutuhan hidup. Di kala musim dingin tiba, aku bangun dari tempat tidurku, melihat ibu masih bertumpu pada lilin kecil dan dengan gigihnya melanjutkan pekerjaan merajutnya. Aku berkata," Ibu, tidurlah, sudah malam, besok pagi ibu masih harus kerja mencuci baju orang dan pergi ke ladang." Ibu hanya tersenyum dan berkata pelang," Cepatlah tidur nak, ibu saat ini belum capek. Belum mengantuk. Ibu akan baik-baik saja." KEBOHONGAN IBU YANG KE TIGA
         Ketika  ujian tiba, ibu meminta cuti kerja supaya dapat menemaniku pergi ujian. Ketika hari sudah siang, terik matahari mulai menyinari, ibu yag tegar dan gigih menunggu aku di bawah terik matahari selama beberapa jam. Ketika bunyi lonceng berbunyi, menandakan ujian sudah selesai. Ibu dengan segera menyambutku dan menuangkan teh yang sudah disiapkan dalam botol yang dingin untukku. Teh yang begitu kental tidak dapat dibandingkan dengan kasih sayang yang jauh lebih kental. Melihat ibu yang dibanjiri peluh, aku segera memberikan gelasku untuk ibu sambil menyuruhnya minum. Ibu dengan tegas berkata, "Minumlah nak, ibu tidak haus!" KEBOHONGAN IBU YANG KE EMPAT
         Setelah kepergian ayah karena sakit, ibu yanga malang harus merangkap sebagai ayah dan ibu. Dengan berpegang pada pekerjaan dia yang dulu, dia harus membiayai keperluan hidup sendiri. Kehidupan keluarga kita pun semakin susah dan susah. Tiada hari tanpa penderitaan. Melihat kondisi keluarga yang semakin parah, ada seorang paman yang tinggal di dekat rumahku pun ikut membantuibuku baik masalah besar maupun masalah kecil ikut. Tetangga yang ada di sebelah rumah melihat kehidupan kita yang begitu sengsara, sering menasehati ibuku untuk menikah lagi. Tetapi ibu yang memang keras kepala tidak mengindahkan nasehat mereka. Ibu berkata dengan lembut, "Saya tidak butuh cinta" KEBOHONGAN IBU YANG KE LIMA
        Setelah lulus kuliah, aku pun melanjutkan studi untuk master dan kemudian memperoleh gelar master di sebuah universitas ternama di Amerika berkat sebuah beasiswa dari sebuah perusahaan swata. Akhirnya aku pun bekerja di perusahaan itu. Dengan gaji yang lumayan tinggi, aku bermaksud membawa ibuku untuk menikmati hidup di Amerika. Tetapi ibu yang baik hati, bermaksud tidak mau menyusahkan anaknya, iaberkata kepadaku dengan bersahaja, "Ibu tidak biasa tinggal di negara orang."  KEBOHONGAN IBU YANG KE TUJUH
       Setelah memasuki usianya yang tua, ibu terkena penyakit kanker usus, harus dirawat di hospital, aku yang berada jauh di seberang samudera atlantik terus segera pulang menjenguk ibunda tercinta. Aku melihat ibu yang terbaring lemah di ranjangnya setelah menjalani pembedahan. Ibu yang kelihatan sangat tua, menatap aku denganpenuh kerinduan.Walaupun senyum yang tersirat di wajahnya terkesan agak kaku karena sakit yang ditahannya. Terlihat dengan jelas betapa penyakit itu menggerogoti tubuh ibu. Sehingga ibu terlihat lemah dan kurus kering. Aku menatap ibu sambil berlinang air mata. Hatiku perih, sakit sekali melihat ibuku dalam keadaan seperti ini. Tetapi ibu dengan tegarnya barkat, "Jangan menagis anakku, Ibu tidak kesakitan, ibu akan sembuh." KEBOHONGAN IBU YANG KE DELAPAN.
       Setelah mengucapkan kebohongannya yang ke delapan.Ibuku tercinta menutup matanya untuk yang terakhir kalinya. Dari cerita di atas, saya percaya teman-teman sekalian pasti mersa tersentuh dan ingin sekali mengucapkan "Terima kasih ibu...!"
       Coba dipikir-pikir teman, sudah berapa lamakah kita tidak menelepon ayah ibu kita? Sudah berapa lamakah kita tidak menghabiskan waktu kita untuk berbicara dengan ayah ibu kita? Di tengah-tengah aktivitas kita yang padat ini, kita selalu mempunyai beribu-ribu alasan untuk meniggalkan ayah ibukita yang kesepian. Kita selalu lupa ayah ibu yang ada di rumah.
       Jika dibandingkan dengan pasangan kita., kita pasti lebih peduli dengan pasangan kita. Buktinya, kita selalu risau akan kabar pasangan kita, risau dia sudah makan atau belum, risau apakah dia bahagia bila di samping kita. Namun, apakah kita semua pernah merisaukan kabar dari orang tua kita? Risau apakah orang tu kita sudah makan atau belum? Risau apakah orangtua kita sudah bahagia atau belum? Apakah ini benar? Kalau ya, coba kita renungkan kembali. Saat kita masih punya kesempatan untuk membalas budi orangtua kita, lakukanlah yang terbaik. Jangan sampai ada kata "MENYESAL" di kemudian hari.

     "Kebohongan di masa lalu tidak selamanya buruk. Dilakukanuntuk sebuah kebenaran sekarang dan masa depan. Seorang Ibu tak akan pernah sengaja membohongi anaknya, semua dilakukannya semata untuk membuat nyaman sang anak!"